follow

Manajemen Pengelolaan dan Analisis Bisnis

Keberhasilan menjalankan bisnis peternakan ayam broiler sangat dipengaruhi oleh tata laksana pemeliharaan yang bagus dan efesien. Mulai dari menggunakan bibit yang bagus, memberikan ransum yang berkualitas dan dalam jumlah yang memadai, menjaga kebersihan kandang, menjaga kebersihan kandang, baik peralatan kandang hingga obat-obatan. Namun, selain tata laksana pemeliharaan yang bagus, keberhasilan menjalankan bisnis peternakan ayam broiler juga sangat didukung oleh manajemen pengelolaan yang profesional dan analisis bisnis yang matang.

Manajemen pengelolaan yang profesional setidaknya akan melindungi usaha peternakan yang dijalankan agar tetap bisa berproduksi secara maksimal dan bisa meminimalisir risiko maupun kendala yang ada. Sedangkan analisis bisnis yang matang bisa membawa dampak positif bagi kemajuan bisnis dan juga kesinambungan bisnis tersebut di kemudian hari. Secara ringkas, beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk membantu terlaksananya manajemen pengelolaan dan analisis bisnis yang profesional adalah sebagai berikut.



  • Mecatat dan Menganalisis Kondisi Finansial/Keuangan
    Untung rugi suatu usaha, termasuk dalam hal ini adalah beternak ayam broiler, hanya bisa diketahui apabila seluruh biaya produksi yang telah dikeluarkan maupun pemasukan telah dicatat dalam buku pembukuan. Untuk itulah, setiap ada transaksi keluar-masuk harus dicatat, termasuk penggunaan atau keperluan dana tersebut. Secara sederhana, peternak akan mendapatkan pemasukan dari penjualan ayam yang diternakkannya. Pemasukan akan masih ditambah dari hasil sampingan, seperti penjualan kotoran ayam dan bulunya.

    Sedangkan total pengeluaran atau biaya produksi merupakan total dana yang telah dikeluarkan untuk proses pemeliharaan ayam, mulai dari persiapan membuka peternakan, membuat kandang, mendatangkan DOC, pakan, pengobatan, hingga pemanenan. mulai dari persiapan membuka peternakan, membuat kandang, mendatangkan DOC, pakan, pengobatan, hingga pemanenan. Bila peternak juga memasarkan daging ayam dalam kemasan siap dimasak, maka biaya proses pengolahannya juga dihitung sebagai biaya produksi. Dari catatan total pemasukan dan pengeluaran tersebut nantinya bisa ditentukan keuntungan kotornya, yaitu hasil dari pemasukan atau penerimaan dikurangi biaya produksi yang telah dikeluarkan selama proses pemeliharaan. Bila keuntungan kotor dikurangi lagi dengan pajak dan lain-lain, maka akan didapatkan keuntungan bersih.

    Pembukuan dan pencatatan untung rugi harus dilakukan dengan tujuan agar peternak bisa menganalisis dan melakukan evaluasi terhadap kondisi keuangan maupun tata laksana produksi yang selama ini telah dijalankan, apakah sudah sehat dan memenuhi target yang diinginkan ataukah justru merugi. Penghitungan untung rugi dilakukan per tahun dan mencatat seluruh pemasukan maupun pengeluaran selama kurun waktu tersebut. Dari penghitungan untung rugi per tahun tersebut nantinya bisa dilakukan penghitungan pada tahun ke berapa akan balik modal dan pada tahun ke berapa peternak sudah bisa mendapatkan keuntungan bersih. Selain itu, hasil evaluasi terhadap kondisi keuangan bisa dijadikan patokan bagi peternak untuk melakukan perbaikan ataupun penataan ulang terhadap tata laksana pengelolaan peternakan ayam broiler yang selama ini dijalankan.

  • Membuat Analisis Bisnis yang Matang
    Analisis bisnis yang matang sangat diperlukan dalam dunia bisnis apapaun, termasuk dalam hal ini adalah beternak ayam broiler. Dengan analisis bisnis yang jitu, peternak bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar, risiko usaha yang semakin kecil, dan juga memenangkan kompetisi di antara pemain dalam bisnis yang sama. Beberapa analisis yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.

    1. Mempertimbangkan waktu pemanenan sehingga bisa didapatkan harga yang bagus.
      Tindakan seperti ini sangat dibutuhkan mengingat fluktuatifnya harga jual daging ayam broiler/ras pedaging di pasaran. Tujuannya adalah apabilaterjadi kenaikan harga jual, seperti menjelang hari-hari besar agama, peternak punya stok produksi yang banyak sehinga bisa mendapatkan keuntungan besar. Sebagian dari keuntungan tersebut bisa untuk subsidi silang bilamana harga jual ayam sedang jatuh. Pada praktiknya, peternak biasanya memperhitungkan waktu yang tepat untuk memulai mengambil bibit (DOC) sehingga ketika dipanen, waktunya bertepatan dengan kenaikan harga jual.
    2. Selalu mencermati gejolak pasar, mulai dari harga pakan, harga jual, dan sebagainya.
      Analisis yang matang sangat dibutuhkan agar peternak tidak merugi bilamana ada kenaikan harga pakan ataupun turunnya harga jual daging ayam. Sebaliknya, bila mana ada kenaikan harga jual daging, maka peternak bisa ikut mendulang keuntungan lebih dari moment tersebut.
    3. Memperhitungkan pos-pos pengeluaran yang sekiranya bisa dipangkas agar bisa mengurangi beban produksi.
      Beberapa pos pengeluaran bisa saja dipangkas karena dianggap kurang efisien. Sebagai contohnya, peternak bisa saja mengurangi jumlah tenaga kerja harian bilamana memang untuk pengelolaan sehari-hari masih bisa ditangani oleh beberapa orang saja.
    4. Memperhitungkan rencana ke depan dan juga risiko yang harus dihadapi.
      Sebagai seorang berjiwa bisnis, peternak memang sudah seharusnya mempunyai rencana ke depan. Misalnya, akan membuka peternakan serupa di lokasi lain, memperluas jangkauan pemasaran, atau memperbanyak jumlah produksi. Namun, semua itu harus melewati analisis yang matang dengan memperhitungkan sisi positif yang matang dengan memperhitungkan sisi positif maupun kendala atau risiko yang harus dihadapi sebagai konsekuensi dari bertambahnya cakupan usaha mulai dari modal yang dibutuhkan, dan lain-lain. Bila memang belum siap, bisa saja ditunda atau ada alternatif lain sehingga setidaknya ada upaya atau tindakan nyata untuk mencapai kemajuan bisnis yang diinginkan.

  • Menakar Tingkat Keberhasilan yang Sudah Diraih
    Secara ringkasnya, sebuah peternakan ayam broiler sudah bisa dianggap berhasil apabila bisa memenuhi persyaratan seperti berikut ini.

    1. Kecepatan tumbuh dari ayam broiler yang dipelihara terbilang normal. Antara lain ditunjukkan dengan bobot ayam yang sepadan dengan umurnya. Sebagai misal, anak ayam umur satu minggu sudah mencapai sekitar 150 gram/ekor, umur 3 minggu mencapai 600-700 gram/ekor.
    2. Konversi makanan rendah
      Angka konversi makanan yang semakin rendah menunjukkan bahwa peternak sudah berhasil menaikkan kualitas pemeliharaannya.
    3. Angka kematian (mortalitas) rendah
      Semakin rendah angka kematian yang terjadi, maka tingkat keberhasilan akan semakin tinggi. Angka mortalitas masih dianggap wajar bila berada di angka 3-5%. Namun, bila angka mortalitas sampai lebih dari 20%, maka usaha peternakan ayam tersebut sudah dianggap gagal.
    4. Nilai Benefit Cost Ratio (B/C ratio) atau tingkat kelayakan usaha lebih besar dari angka 1.
      (B/C ratio) adalah perbandingan antara total pendapatan dan total biaya produksi yang dikeluarkan. Usaha tersebut dianggap layak apabila nilai B/C ratio yang didapatkan lebih besar dari angka 1. Contohnya, bila total pendapatan mencapai Rp 50.000.000 sedangkan total biaya produksi sebesar Rp 30.000.000 maka akan didapatkan nilai B/C ratio sebesar 1,67 yang berarti usaha tersebut dianggap memenuhi kelayakan usaha.

By Chintya Nada Pangestika with 0 comments

Leave a Reply

Anda tidak punya ID khusus untuk berkomentar? Gunakan pilihan Name/URL, kotak URL bisa Anda kosongi Jika tidak punya blog atau situs. Sebagai pencari informasi sampaikan pendapat Anda apa saja mengenai Manajemen Pengelolaan dan Analisis Bisnis.
Komentar Anda mencerminkan pribadi, berkomentarlah yang baik. Terima kasih.