follow

ACHIEL BREAKS™ - MEGAMIXTAPE OPENING PARTY

MEGAMIXTAPE OPENING PARTY
TRACKLIST :

+ DISKOTIK AREA
+ THIS IS ANTHEM
+ AKU SANGE
+ NUMBER ONE MASTERED
+ LOVE IS UNBOUND
+ UNINVITED
+ YOUR EYES
+ JUST ANOTHER NIGHT
+ STAY THE NIGHT
+ GOD IS A GIRLS
+ BAD SHOWTEK
+ ANGRY DUCK
+ WHATS UP
+ PLAY HARD
+ LONDON BRIDGE
+ DANCE WITH SOMEBODY
+ MUGWAN RAY
+ ELEMENT FUCKING
+ NAD ZEMLOY
+ ANIMAL SAXO
+ PRAM PAM POM
+ SLOW DOWN
+ NEON
+ THE CODE OF RADIO
+ WE LIKE TO PARTY
+ BOTTLE POP
+ AH YEAH

GENRE : BREAKFUNKY TRAP DUTCH
BPM : 141
PITCH : +2.88%
BITRATE : 128KBPS
FREE LINK DOWNLOAD : http://adf.ly/3095874/megamixtape-opening-party
By Chintya Nada Pangestika with 0 comments

Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Broiler di PT. JANU PUTRO SENTOSA BOGOR

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

TATALAKSANA PEMELIHARAAN AYAM PEDAGING

STRAIN MB 202-P PERIODE STARTER–FINISHER

DI PT. JANU PUTRO SENTOSA BOGOR

***

PROGRAM KEAHLIAN

TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TERNAK

DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2007


DAFTAR ISI
RINGKASAN ……………………………………………………………….. i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………. ii
DAFTAR TABEL …………………………………………………………… iii
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………… iv
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… v
PENDAHULUAN …………………………………………………………… 1
Latar Belakang …………………………………………………………… 1
Tujuan ……………………………………………………………………. 1
Metode Pelaksanaan Praktik ……………………………………………… 2
Waktu dan Tempat Praktik ………………………………………………. 2
KEADAAN UMUM ………………………………………………………… 3
Lokasi dan Tata Letak ……………………………………………………. 3
Sejarah dan Perkembangan ………………………………………………. 3
Struktur Organisasi ……………………………………………………… 3
Ketenagakerjaan …………………………………………………………. 5
SARANA PRODUKSI ……………………………………………………… 6
Sarana dan Prasarana …………………………………………………….. 6
Perkandangan ……………………………………………………………. 7
Jumlah dan Strain Ayam yang Dipelihara ……………………………….. 9
HAL YANG DIKERJAKAN ………………………………………………. 10
Pemeliharaan Ayam Periode Starter – Finisher ………………………….. 10
Persiapan Kandang dan Peralatan yang Digunakan ………………… 10
Penggunaan dan Pengaturan litter ………………………………….. 11
Perlakuan Saat DOC Datang ………………………………………. 12
Sanitasi ……………………………………………………………… 12
Pemberian Pakan dan Air Minum …………………………………. 13
Seleksi ……………………………………………………………… 15
Vaksinasi …………………………………………………………. 15
Pemberian Vitamin dan Obat-obatan ……………………………… 17
Pemanenan …………………………………………………………. 17
PEMASARAN ………………………………………………………………. 18
Jumlah, bentuk dan Harga ……………………………………………….. 18
Wilayah / Konsumen …………………………………………………….. 18
KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………………… 19
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 20
LAMPIRAN ………………………………………………………………… 21 

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan praktik kerja lapangan dan penyusunan laporannya.
Pada kesepatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Ir. Sumiati, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih juga kepada bapak Prof Dr. Ir. M. Zairin Junior, M.Sc. selaku Direktur Program Diploma IPB dan bapak Ir. Andi Murfi, M.Si. selaku koordinator Program Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak, yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan praktik kerja lapangan.
Selain itu kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Manager beserta karyawan PT. Janu Putro Sentosa, Pemilik Peternakan yaitu Bapak Wawang beserta Pegawai kandang yang telah membantu dalam pelaksanaan praktik kerja lapangan ini.
Kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua kami yang telah memberikan dorongan baik moral dan material, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktik kerja lapangan yang pertama ini.
Kami menyadari laporan ini masih sangat jauh dari sempurna, karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih.
Bogor, September 2007
Penulis

PENDAHULUAAN
Latar Belakang

Ayam broiler adalah jenis ayam jantan maupun betina muda berumur sekitar 6 – 8 minggu yang dipelihara secara intensif, guna memperoleh daging yang optimal. Ditinjau dari segi mutu, daging ayam memiliki nilai gizi yang tinggi dibandingkan ternak lainnya. Dan jika ditinjau dari segi ekonomis, khususnya ayam ras potong atau ayam negeri yang sudah populer dengan sebutan broiler ini, merupakan ayam negeri yang bisa diusahakan secara efisien dan cepat dalam pemanenan.
Hingga saat ini, usaha peternakan ayam broiler merupakan salah satu kegiatan yang paling cepat dan efisien untuk menghasilkan bahan pangan hewani yang bermutu dan bernilai gizi tinggi. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain, laju pertumbuhan ayam yang lebih cepat dibandingkan dengan komoditas ternak lainnya, permodalan yang relatif lebih kecil, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas serta kebutuhan dan kesadaran masyarakat meningkat akan kandungan gizinya. Sehingga kondisi ini menuntut adanya penyediaan daging ayam yang cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Latar Belakang PKL????

Tujuan

Tujuan praktik kerja lapangan ini adalah untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dalam tatalaksana pemeliharaan ayam broiler, serta menerapkan ilmu yang diperoleh di perkuliahan dan belajar membekali diri dengan keterampilan untuk tujuan dunia kerja.
Selain itu, tujuan praktik kerja lapangan ini yaitu untuk belajar bekerja sama, melatih sikap mandiri, bertanggung jawab, disiplin dan hidup bermasyarakat.

Metode Pelaksanaan Praktik

Cara melakukan praktik kerja lapangan ini yaitu dengan bekerja secara langsung, melakukan pengamatan, wawancara, serta pengumpulan data primer dan data sekunder.
Pengamatan dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan cara kerja para pegawai kandang selama pemeliharaan ayam berlangsung.
Pengumpulan data primer dilakukan berdasarkan pencatatan data-data hasil pengamatan dan wawancara selama melakukan praktik kerja lapangan, sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan berdasarkan data-data yang telah ada sebelum melaksanakan praktik kerja lapangan, tetapi data tersebut sangat mendukung dan berhubungan dengan keadaan selama melakukan praktik kerja lapangan.
Wawancara dilakukan terhadap pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung selama pemeliharaan.

Waktu dan Tempat Praktik

Praktik kerja lapangan ini dilaksanakan di PT. Janu Putro Sentosa, yang bekerja sama dengan peternakan milik bapak Wawang di Kampung Pasir Benda, Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Waktu pelaksanaannya dimulai dari tanggal 16 Juli 2007-25 Agustus 2007.

KEADAAN UMUM
Lokasi dan Tata Letak

Peternakan ayam broiler milik PT. Janu Putro Sentosa, terletak di Kampung Pasir Benda, Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Daerah ini berada pada ketinggian 600 sampai 800 m di atas permukaan laut, dengan suhu udara berkisar antara 220-280C dan kelembaban 70-75%. Peternakan ayam broiler ini menempati areal seluas ±1,5 hektar. Satu hetar dari areal tersebut dipakai untuk kegiatan pemeliharaan ayam broiler, sedangkan sisanya dipakai sebagai areal perkebunan jagung dan pepaya.

Sejarah dan Perkembangan

PT. Janu Putro Sentosa merupakan sebuah perusahaan kemitraan yang bergerak di bidang ayam broiler. Perusahaan ini memiliki beberapa unit yang tersebar di sekitar Pulau Jawa dan Sumatra, seperti Jonggol, Serang, Lampung, Bogor, dan baru-baru ini membuka unit di Bandung. Pusat dari perusahaan ini berada di Yogyakarta. 

Unit kemitraan yang pertama kali dirintis berada didaerah Jawa Barat, tepatnya di kota Bogor. PT. Janu Putro Sentosa cabang Bogor berdiri pada tanggal 1 Januari 2003 dan mulai diresmikan tanggal 3 januari 2003. Unit Kemitraan cabang Bogor membawahi beberapa peternakan yang berada di daerah Gunung Bunder, Cibening, Gunung Sari, Cibitung, Ciawi, Cibinong, Kemang, Pabuaran, Cibeber dan Cigudeg. Pada tahun 2004 PT. Janu Putro Sentosa cabang Bogor mengalami kerugian yang disebabkan oleh mewabahnya virus flu burung di peternakan ayam broiler yang dibawahi oleh Perusahaan ini.
Pada awal dirintisnya jumlah seluruh ayam pada peternakan yang dibawahi oleh unit kemitraan cabang Bogor adalah ± 80.000 ekor, dan sekarang berjumlah ± 370.000 ekor.

Struktur Organisasi

Struktur orgsnisasi merupakan pola hubungan diantara orang-orang yang mempunyai kedudukan, tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi.
Manajer merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di kemitraan PT. Janu Putro Sentosa, yang bertanggung jawab pada pimpinan pusat terhadap operasional perusahaan. Struktur organisasi yang baik akan mempermudah kegiatan perusahaan sehingga timbul tanggung jawab dari staf dan karyawan terhadap tugas yang diembannya.
Operasional Manager Wilayah Jabotabek dan Lampung
Unit Farm Ayam Broiler
Ahmad Johar, S.Pt
 
   
Ka. Unit Bogor
M. Gani
 


Ketenagakerjaan

Dari struktur organisasi di atas, dapat dilihat bahwa jumlah karyawan PT. Janu Putro Sentosa cabang opersional wilayah Bogor (Desa Cibening) adalah 28 orang yang terdiri dari 25 orang karyawan pria dan 3 orang karyawan wanita. Latar belakang pendidikan karyawan dari mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Tabel 1. Jabatan, pendidikan dan jumlah tenaga kerja PT. Janu Putro Sentosa, Bogor (Desa Cibening)
Jabatan - Pendidikan - Jumlah
 
Operasional ManagerS1 - 1
Ka. Unit Bogor - S1 - 1
Cashier - SMA - 1
TS. Produksi - AMd - 1
Adm. Produksi - S.Pt - 1
Marketing - S1 - 1
Logistik - S.Pt -1
Sopir - SMA - 1
OB - SMP - 1
PPL - AMd - 2
Adm. Marketing - S1 - 1
Ka. Gudang - SMA - 1
Kolektor, - DO SMA - 1
Kepala Kandang - SMP - 1
Pegawai Kandang - SD – SMA - 13
Total 28
 
Sumber : PT. Janu Putro Bogor Sentosa (Desa Cibening), 2007.

Sarana Produksi
Sarana dan Prasarana
1. Sumber Air. Sumber air pada peternakan ini berasal dari sumur bor yang terdapat pada setiap kandang. Air disedot dengan menggunakan jet pump yang menggunakan tenaga listrik dan ditampung dalam bak penampung atau pada drum yang berkapasitas 250 liter.
2. Sumber Energi. Sumber energi yang digunakan berasal dari PLN, tetapi terdapat diesel yang digunakan untuk menyedot air dan juga sebagai cadangan energi jika listrik mati.
3. Peralatan. Peralatan yang digunakan di PT. Janu Putro Sentosa masih menggunakan peralatan yang sederhana, diantaranya yaitu : tempat pakan, tempat air minum, lampu penerangan, pemanas (brooder), lingkar pembatas, dan drum tempat penampungan air.
Tempat pakan yang digunakan oleh PT. Janu Putro Sentosa terdiri dari dua jenis, yaitu tempat pakan yang berbentuk nampan (chick feeder tray), yang digunakan untuk ayam umur 0–7 hari. Tempat pakan ini terbuat dari bahan plastik, dan berdiameter 30 cm untuk ± 60 ekor. Tempat pakan yang digunakan pada saat ayam berumur lebih dari 14 hari sampai pemanenan menggunakan tempat pakan berbentuk bundar yang digantung (hanging feeder), dan berbahan plastik. Kapasitas tempat pakan gantung ini 5 kg ransum.
Tempat air minum yang digunakan yaitu berbentuk tabung dan digantung, yang mempunyai kapasitas sekitar 5 liter. Tempat air minum ini terbuat dari bahan plastik, dan dapat dipakai untuk ayam dari umur DOC sampai pemanenan. Tempat pakan dan tempat air minum yang digunakan oleh PT. Janu Putro Sentosa ini berasal dari PT. Medion, PT. Mensana dan PT. Agro.
Lampu penerangan yang digunakan di kandang adalah lampu neon dan lampu pijar. Semawar (brooder) merupakan alat yang digunakan sebagai pemanas untuk DOC/ayam yang baru datang sampai ayam berumur ± 14 hari. Pemanas ini berbentuk lingkaran, terbuat dari bahan seng dan besi serta menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.
Lingkar pembatas (chick guard) digunakan ketika ayam berumur ± 0-7 hari. Tujuan dibuatnya lingkar pembatas yaitu untuk menahan angin kencang dan menjaga agar ayam selalu tetap berada di dalam daerah pemanas. Lingkar pembatas ini terbuat dari bahan seng, yang mempunyai tinggi 45 cm.
Drum (tempat penampungan air) digunakan ketika air dinyalakan, dan digunakan ketika akan memberi air minum pada ayam. Drum ini terbuat dari bahan plastik, dan berkapasitas ± 250 liter.
4. Gudang pakan. Gudang pakan merupakan tempat penyimpanan pakan yang lokasinya terpisah antara gudang yang satu dengan lainnya. Gudang pakan yang terdapat di peternakan ini yaitu sekitar 8 buah.
5. Tempat Tinggal Pegawai Kandang. Tempat tinggal pegawai kandang terletak disekitar lokasi peternakan, dan dibangun disebelah gudang pakan. Pembangunan tempat tinggal pegawai kandang bertujuan untuk memudahkan para pegawai dalam pengelolaan atau pemeliharaan ayam.
Perkandangan
Menurut Zainal abidin (2002) kandang merupakan tempat hidup, tempat berproduksi, dan berfungsi untuk melindungi ayam dari gangguan binatang buas, melindungi ayam dari cuaca yang tidak bersahabat, membatasi ruang gerak ayam, menghindari resiko kehilangan ayam, mempermudah pengawasan, pemberian pakan dan air minum, serta pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.
PT. Janu Putro Sentosa Bogor memiliki sepuluh unit kandang yang terdapat di desa Cibening. Dari ke-10 kandang ini tidak semua kandang milik pribadi, terdiri dari 5 kandang milik pribadi, dan 5 kandang milik orang lain yang dikontrak.
Sistem perkandangan yang digunakan di PT. Janu Putro Sentosa yaitu menggunakan tipe kandang panggung (Slat System), tipe kandang ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kandang Postal (Litter System). Kelebihan dari sistem kandang ini yaitu sirkulasi udaranya yang baik, karena angin dapat masuk dari bawah dan samping kandang.
Atap kandang berjenis monitor type, dan menggunakan genting sebagai atapnya. Tiang penyangga bangunan terbuat dari kayu yang mempunyai tinggi 2-4 m, tetapi ada juga penyangga bangunan yang menggunakan setengah kayu dan setengah di tembok. Dinding kandang terbuat dari kawat yang mempunyai tinggi 2 m dari alas kandang. Konstruksi lantai yang digunakan adalah lantai yang mempunyai celah dan terbuat dari bambu. Jarak celah lantai tersebut yaitu 2,5 cm.
Jarak antara kandang yang satu dengan yang lainnya yaitu sekitar 8–10 m, atau jaraknya sama dengan lebar kandang. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kesehatan pada ayam, dan untuk mencegah penularan penyakit. Arah kandang yang terdapat di PT. Janu Putro Sentosa membujur dari Timur ke Barat, tujuannya yaitu agar ayam tidak terkena panas matahari secara langsung. Kepadatan pada kandang panggung ini yaitu ± 12 ekor/m2. Kandang panggung yang digunakan oleh PT. Janu Putro Sentosa dapat dilihat pada Gambar 2.
Ukuran kandang dan populasi ayam yang terdapat di PT. Janu Putro Sentosa dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 2. Ukuran Kandang dan Populasi Ayam PT. Janu Putro Sentosa Bogor (Desa Cibening).

 
Kandang Lebar (m) Panjang (m) Luas (m2) Populasi (ekor)

1 6 35 210 3500
2 6 17,5 105 2000
3 8 35 280 3500
4 8 60 480 6000
5 8 45 360 4000
6 8 70 560 7000
7 8 57 456 5500
8 8 57 456 5500
9 8 42,5 340 4500
10 7 27,5 192,5 2500
 
Sumber : PT. Janu Putro Sentosa Bogor (Desa Cibening), 2007.

Jumlah dan Strain Ayam yang Dipelihara
Pada saat praktik kerja lapangan dilaksanakan, ayam yang dipelihara oleh PT. Janu Putro Sentosa (Desa Cibening) berjumlah sekitar ± 50.000 ekor, dengan interval waktu pemeliharaan yang berbeda-beda, pada kandang serta lokasi yang berbeda pula. Strain ayam yang digunakan oleh PT. Janu Putro Sentosa adalah MB 202–P, ayam tersebut diproduksi oleh PT. Multibreeder Adirama Indonesia. Tbk. yang terletak di daerah Purwakarta.

PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Pemeliharaan Ayam Periode Starter – Finisher
Pemeliharaan ayam broiler ini dipelihara selama ± 35 hari, dengan menggunakan sistem pemeliharaan all in all out. Maksudnya yaitu ayam masuk secara bersamaan, dan keluarnya pun secara bersama- sama. Tujuan dilakukannya pemeliharaan dengan sistem all in all out adalah untuk memudahkan dalam pemanenan. Kegiatan yang dilakukan selama melaksanakan praktik kerja lapangan ini meliputi kegiatan persiapan kandang dan peralatan yang digunakan, penggunaan dan pengaturan litter, perlakuan saat DOC datang, sanitasi kandang, pemberian pakan dan air minum, seleksi, vaksinasi, pemberian vitamin dan obat-obatan, dan pemanenan.
Persiapan Kandang dan Peralatan yang Digunakan
Sebelum kegiatan pemeliharaan ayam berlangsung, terlebih dahulu kandang dan peralatan yang akan digunakan harus dipersiapkan dengan baik. Tujuan dari persiapan kandang ini sendiri yaitu untuk memberikan rasa nyaman pada ayam ketika ayam mulai masuk, serta supaya terhindar dari gangguan penyakit.
Pada saat melakukan praktik kerja lapangan, kegiatan persiapan kandang yang dilakukan meliputi pembersihan atap dan lantai kandang, pengapuran, dan pengistirahatan.
Pembersihan atap dan lantai kandang dilakukan setelah pemanenan ayam selesai. Pembersihan atap dilakukan dengan membersihkan debu dan sarang laba-laba yang ada dilangit-langit kandang dengan menggunakan sapu bergagang panjang. Pembersihan lantai dimulai dengan menyemprotkan air ke permukaan lantai kemudian didiamkan selama beberapa jam, dengan tujuan agar kotoran yang menempel dapat dengan mudah dibersihkan. Setelah didiamkan selama beberapa jam, lantai digosok dengan menggunakan lap yang bergagang sambil disemprot dengan air sampai bersih.
Setelah lantai bersih kemudian dibiarkan hingga kering dan selanjutnya dilakukan pengapuran. Bahan yang digunakan dalam proses pengapuran untuk luasan kandang 560 m2 adalah 100 kg kapur, 500 liter air dan 5 liter formalin 40%. Cara kerjanya yaitu larutkan kapur dengan air di dalam drum, lalu tambahkan formalin 40% kemudian aduk hingga homogen dengan menggunakan alat pengaduk. Setelah homogen, larutan tersebut disiramkan sedikit demi sedikit secara merata ke seluruh lantai kandang dengan menggunakan gayung atau ember. Pengistirahatan kandang dilakukan setelah pengapuran selesai. Pengistirahatan dilakukan selama ± 1-2 minggu.
Persiapan peralatan meliputi pembersihan tempat pakan dan tempat air minum yang telah digunakan sebelumnya, penyemprotan tirai, pembersihan semawar (pemanas), pencucian lingkar pembatas (chick guard), dan pencucian karung (alas sekam).
Pembersihan tempat pakan dan tempat air minum yang akan digunakan dilakukan dengan menggunakan disinfektan yaitu Septosid, kemudian dikeringkan. Penyemprotan tirai dan pembersihan semawar (pemanas) dilakukan dengan menggunakan disinfektan yang sama. Lingkar pembatas dicuci dengan cara disikat sambil disemprot dengan air hingga bersih, kemudian dikeringkan. Karung (alas sekam) dicuci dengan cara direndam terlebih dahulu selama satu malam, lalu kucek dan bilas dengan air sampai bersih. Setelah karung bersih, kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari.
Penggunaan dan pengaturan litter
Dalam pemeliharaan ayam broiler di PT. Janu Putro Sentosa, litter yang digunakan berasal dari kulit padi atau sekam. Penaburan sekam dilakukan dua hari sebelum DOC datang. Sebelum sekam ditaburkan, lantai kandang diberi alas terlebih dahulu dengan menggunakan karung. Ketebalan litter setinggi 5-8 cm. Pada saat ayam datang hingga berumur satu hari, permukaan litter yang digunakan harus diberi alas koran atau karung. Tujuannya agar ayam dapat mengenal pakannya, sehingga ayam tidak memakan litter. Litter digunakan mulai dari DOC hingga ayam berumur ± 20 hari. Litter harus selalu dalam keadaan bersih dan menurut Bambang Cahyono (1995), alas lantai/litter yang digunakan harus dalam keadaan kering, karena jika litter selalu dalam keadaan kering maka ayam akan terhindar dari penyakit pernapasan. Ketika ayam berumur 16 hari, litter mulai diturunkan sedikit demi sedikit hingga pada saat ayam berumur 20 hari litter sudah turun semua.
Perlakuan Saat DOC Datang
Sebelum DOC datang, kandang harus sudah siap 48 jam sebelumnya. Tirai harus tertutup semua tanpa ada celah, sehingga angin tidak bisa masuk. Penutupan tirai secara keseluruhan dilakukan selama satu minggu, setelah itu pembukaan tirai dilakukan sesuai dengan keadaan cuaca. Lingkar pembatas dibuat satu kotak besar untuk keseluruhan ayam dalam satu kandang. Luasan lingkar pembatas 60 m2 untuk 5500 ekor.
Pemanas (brooder) dihidupkan satu jam sebelum DOC datang, sampai temperatur disekitar pemanas mencapai suhu 32–35oC. Pemanas yang digunakan sebanyak 6 buah untuk kapasitas 5500 ekor ayam, dengan ketinggian 50 cm dari litter. Menurut Sugandi (1978) bahwa temperatur udara disekitar alat pemanas yang baik untuk pertumbuhan anak ayam adalah 95oF (35oC). Pemanas dihidupkan selama 3 hari tanpa dimatikan. Hari ke-4 dan seterusnya pemanas dihidupkan sesuai dengan keadaan cuaca. Pencahayaan yang digunakan dengan menggunakan lampu neon 60 Watt sebanyak 6 buah.
Pada saat DOC datang, DOC dikeluarkan dari dalam box pengemasnya dan langsung dimasukan ke dalam indukan (chick guard). Menurut Sudaryani dan Santosa (1994) indukan buatan memerlukan suhu 35oC pada minggu pertama bila memungkinkan, temperatur dapat diturunkan ± 5oC setiap minggu sampai suhu mencapai 18-24oC. Setelah anak ayam masuk kedalam indukan kemudian diberikan air minum yang dicampur dengan vitamin yaitu Biovit, tujuannya supaya kondisi ayam segar kembali. Pada saat ayam datang penimbangan bobot awal tidak dilakukan, karena bobot rata-rata ayam sudah tercantum dalam box DOC. Bobot awal rata-rata dari ayam ini yaitu 37 gram / ekor.
Sanitasi
Sanitasi adalah cara perlindungan lokasi farm dengan cara membersihkan secara kimia maupun mekanis. Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet / terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang ada.
Sanitasi kandang yang dilakukan di PT. Janu Putro Sentosa adalah menjaga kebersihan kandang dan sekitarnya, membersihkan peralatan kandang, menggunakan alas kaki khusus untuk di dalam kandang, mencuci kaki sebelum memasuki kandang, dan menjaga litter agar tetap kering.
Pemberian Pakan dan Air Minum
Pemberian pakan pada anak ayam periode starter sampai finisher dilakukan dengan metode ad libitum, yaitu metode pemberian pakan dengan cara ayam makan sepuasnya atau tidak terbatas. Tempat pakan yang digunakan pada umur 0-7 hari berbentuk nampan (chick feeder tray). Pemberian pakan anak ayam sampai umur 1 minggu dilakukan sesering mungkin ± 6-8 kali / hari tergantung habisnya pakan dalam chick feeder tray. Setelah ayam berumur 7 hari tempat pakan yang digunakan sebagian diganti dengan tempat pakan yang berbentuk bundar dan digantung (hanging feeder). Menurut Abibin (2002) ketinggian tempat pakan dan tempat air minum 2–2,5 cm di atas permukaan punggung ayam. Kapasitas tempat pakan 1 buah untuk 20-25 ekor ayam. Pakan yang diberikan untuk ayam umur 0-14 hari adalah PC 100 (Prime Chick) yang diproduksi oleh PT. Charoen Pokphand Indonesia. Pakan ini berbentuk mash (butiran halus). Komposisi zat makanan ransum PC 100 disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kandungan zat makanan PC 100

Zat Makanan Kandungan (%)

Kadar Air max 13,0
Protein 21,5 – 23,5
Lemak min 5,0
Serat max 5,0
Abu max 7,0
Kalsium min 0,9
Phospor min 0,6
Energi Metabolis 3020 – 3120 Kkal/kg
Sumber : PT. Charoen Pokphan Indonesia.
Setelah ayam berumur 14 hari, keseluruhan tempat pakan yang digunakan adalah hanging feeder. Pakan yang digunakan diganti dengan BR 1 SP (Broiler I SP) atau BR I RX-V (Broiler I RX-V) yang di produksi oleh PT. JAPFA COMFEED Indonesia. Pakan ini berbentuk crumble (butiran kasar) kemudian diberikan sebanyak dua kali, yaitu sekitar jam 8 pagi dan 4 sore. Kandungan zat makanan BR I SP dan BR I RX–V disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan zat makanan BR I SP dan BR I RX-V
 

Zat Makanan Kandungan

BR I SP BR I RX-V
Air max 12 12
Protein Kasar min 21 21,5
Lemak Kasar min 4 4
Serat Kasar max 4,5 4
Abu max 6,5 6,5
Kalsium 0,9 – 1,1 0,9 – 1,1
Phospor 0,7 – 0,9 0,7 – 0,9
Growth Promotor Virginiamycin/Zinc Bacitracin
Coccidiostat Salinomycin/Monensin

Sumber : PT. JAPFA COMFEED Indonesia.
Pemberian air minum dari awal sampai akhir pemeliharaan diberikan ad libitum (tidak terbatas), dengan memakai tempat air berbentuk tabung dan digantung yang berkapasitas 5 liter untuk 50 ekor anak ayam.Tempat air minum selalu dicuci bersih sehabis pemakaian agar terhindar dari bibit penyakit yang merugikan.
Seleksi
Seleksi yang dilakukan oleh PT. Janu Putro Sentosa mulai umur 1 hari sampai pemanenan. Seleksi berdasarkan besar kecilnya ukuran tubuh ayam, kelainan (cacat), ayam sakit dan ayam mati.
Ayam yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dipisahkan dengan yang lainnya dan dipelihara ditempat tersendiri dalam sekat dipojok kandang, serta diberi pakan lebih banyak dibandingkan dengan ayam yang memiliki ukuran tubuh normal. Kelainan (cacat) pada ayam yang terdapat dipeternakan ini terdiri dari cacat bawaan contohnya bentuk paruh dan leher yang bengkok, paruh yang menyerupai bentuk paruh burung kakatua, dan cacat karena cedera contohnya kaki dan sayap yang terperosok, pantat terluka karena dipatuki ayam lain yang kanibal. Ayam yang sakit dan cacat diberi perlakuan yang sama seperti ayam yang memiliki ukuran tubuh kecil, sedangkan ayam yang mati langsung dibuang (dikubur).
Vaksinasi
Vaksinasi merupakan upaya memasukan bibit penyakit yang telah dilemahkan atau telah mati kedalam tubuh unggas yang sehat untuk memperoleh kekebalan penyakit tertentu. Menurut Abidin (2002) vaksinasi pasif adalah proses memasukan bibit penyakit yang sudah mati, sedangkan vaksinasi aktif adalah proses memasukan bibit penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh ayam, baik melalui injeksi, campuran air minum, maupun tetes mata. Vaksin digunakan dengan tujuan untuk mencegah penyakit asal virus, misalnya ND dan Gumboro (Rasyaf, 2007).
Program vaksinasi di PT. Janu Putro Sentosa Bogor dilakukan sebanyak tiga kali setiap periode pemeliharaan. Vaksinasi terdiri dari ND 1, Gumboro, dan ND 2 (Tabel 5).
Tabel 5. Program vaksinasi di PT. Janu Putro Sentosa Bogor (Cibening)
Umur (hari) Jenis Vaksin Aplikasi
4 ND–LIVE tetes mata
13 IBD–LIVE air minum (oral)
19 ND–LIVE air minum (oral)

Sumber : PT. Janu Putro Sentosa Bogor (Desa Cibening), 2007.
Pada umur empat hari, ayam divaksinasi ND dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi dilakukan dengan cara tetes mata dan sebelum vaksinasi ayam tidak dipuasakan terlebih dahulu. Vaksinasi dilaksanakan mulai pukul 7 pagi sampai pukul 13 siang. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk 5500 ekor ayam (1,09 cc / ekor). Vaksin yang digunakan disimpan dalam termos es supaya vaksin selalu dalam keadaan dingin, dengan tujuan agar vaksin tidak cepat rusak.
Cara kerja dalam pemberian vaksin ini yaitu, pertama-tama giring seluruh ayam ke suatu sudut kandang, lalu beri sekat. Kemudian teteskan vaksin pada ayam satu persatu. Simpan ayam yang sudah diberi vaksin di bagian sekat yang kosong. Usahakan vaksin yang digunakan selalu dalam keadaan dingin sampai vaksinasi selesai.
Pada umur 13 hari, ayam divaksinasi Gumboro dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi dilakukan dengan cara oral (dicampurkan dengan air minum). Sebelum vaksinasi dilaksanakan, ayam dipuasakan terlebih dahulu selama ± 2 jam. Vaksinasi dilaksanakan pada pukul 7 pagi. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk 5500 ekor ayam. Vaksin tersebut kemudian dicampur dengan 200 liter air, kemudian diisikan ke dalam galon tempat air minum masing-masing sebanyak 2 liter. Setelah vaksin habis diminum oleh ayam, kemudian galon tersebut diisi dengan air putih biasa.
Pada umur 19 hari, ayam divaksinasi ND 2 dengan jenis vaksin aktif. Dosis dan cara pemberian vaksin sama dengan saat vaksinasi Gumboro.
Pemberian Vitamin dan Obat-obatan
Ayam merupakam ternak yang rawan terhadap penyakit. Untuk pencegahan biasanya obat-obatan yang diberikan berupa vitamin dan antibiotika dalam dosis rendah. Pemberian vitamin bertujuan untuk mengurangi cekaman atau stress dan pemberian obat yang mengandung antibiotika untuk pencegahan penyakit pada saluran pencernaan. Vitamin dan obat-obatan yang dipakai dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Program Pemberian Vitamin dan Obat-obatan di PT. Janu Putro
Sentosa Bogor

Umur (hari) Obat/Vitamin Dosis
1–3 Biovite 1 g / 12 liter
5–7 Moxacol 1 g / 1 liter
8–11 Masabro 1 g / 2 liter
12 dan 14 Supralit 1 g / 2 liter
15–17 Colimas 1 g / 1 liter
18 Supralit 1 g / 2 liter
20–22 Supralit 1 g / 2 liter
23–27 Carmavit 1 g / 1-2 liter

Sumber : PT. Janu Putro Sentosa Bogor (Desa Cibening), 2007.
Pemanenan
Panen dilakukan pada saat ayam berumur 35 hari dengan bobot badan akhir rata-rata 1,9–2 kg. Pemanenan dilakukan dengan cara menangkap 4 sampai 5 ekor ayam, kemudian mengikat kakinya dengan tali yang telah disimpulkan, lalu ditimbang dan dilakukan pencatatan baik dari pihak pembeli maupun perusahaan, setelah itu langsung diangkut dan dimasukkan kedalam keramba yang tersedia di atas mobil. Sebelum mobil pengangkut ayam pergi, dilakukan penyiraman dengan air terhadap ayam tujuannya agar ayam tetap segar (tidak kepanasan) sampai di tujuan. Setelah panen selesai, data hasil pencatatan dari pihak perusahaan diserahkan ke pembeli untuk dicocokkan.
Pemasaran
Jumlah, Bentuk dan Harga
Ayam dipanen secara keseluruhan dan dijual berdasarkan bobot hidup ayam. Pada masyarakat sekitar, peternak menjual ayamnya dengan harga Rp.11.000,- / kg, sedangkan pada perusahaan pemotongan atau pasar, ayam dijual dengan harga Rp.12.000,- / kg. Harga ayam yang dijual pada masyarakat lebih murah karena ayam yang dijual dalam jumlah sedikit. Jumlah dan waktu pemanenan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah dan Waktu Pemanenan
Tanggal Lokasi Kandang Jumlah (ekor)
1–2 Agustus 2007 A 1 dan 2 5500
3–6 Agustus 2007 B 3–6 20.000
13–15 Agustus 2007 C dan D 7–9 17.500
 
Sumber : PT. Janu Putro Sentosa (Desa Cibening), 2007.
Wilayah
Ayam yang dipelihara di peternakan PT. Janu Putro Sentosa dijual / dipasarkan ke wilayah Jakarta dan Bogor (Leuwiliang dan Pondok Rumput). Pemasaran yang paling banyak adalah ke daerah Pondok Rumput yang merupakan daerah rumah pemotongan ayam (RPA). Selain ke RPA, ayam juga dijual secara langsung ke pasar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kondisi peternakan PT. Janu Putro Sentosa Bogor (Desa Cibening) sudah baik dan memenuhi syarat lokasi usaha peternakan ayam yang baik, hal ini dapat dilihat dari kondisi udara yang baik (sejuk), lokasi kandang tidak jauh dari pemasaran, dan tersedianya sarana transportasi yang mendukung.
Pada saat melaksanakan praktik kerja lapangan, strain ayam yang digunakan yaitu MB 202–P dengan jumlah ± 50.000 ekor. Ayam tersebut dipelihara selama ± 35 hari, setelah itu dilakukan pemanenan pada masing-masing kandang secara bertahap. Pakan yang digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu PC 100 diberikan untuk ayam berumur 0–14 hari. BR I SP dan BR I RX–V diberikan untuk ayam berumur 14 hari sampai pemanenan. Pemberian vaksinasi dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu periode, yaitu pada saat ayam berumur 4 hari dengan vaksin ND I. Umur 13 hari, ayam di vaksin Gumboro dan umur 19 hari diberikan vaksin ND II. Selain dilakukan vaksinasi, ayam diberikan vitamin dan obat-obatan sesuai dengan jadwal pemberian yang ditentukan oleh perusahaan.
Saran
Sarana dan prasarana yang ada dipeternakan ini harus lebih dilengkapi, contohnya seperti fasilitas pegawai kandang dan gudang pakan. Sanitasi kandang pada saat awal hingga akhir pemeliharaan ayam harus selalu dilaksanakan dengan baik dan terus ditingkatkan, karena sanitasi dapat mencegah penyebaran wabah penyakit pada ternak.
RINGKASAN
Ayu Laili, Feri Andriawan, Junaidi Karo-karo, Yuyun Yuniarti. 2007. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Broiler Strain MB 202-P Periode Starter sampai Finisher di PT. Janu Putro Sentosa. Laporan Praktik Kerja Lapangan, Program Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak, Direktorat Program Diploma, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing : Dr. Ir Sumiati, M.Sc
Praktik Kerja Lapangan di PT. Janu Putro Sentosa dilaksanakan dari tanggal 16 Juli 2007 – 25 Agustus 2007. Tujuan Praktik Kerja Lapangan adalah untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dalam tatalaksana pemeliharaan ayam broiler serta menerapkan ilmu yang di peroleh di perkuliahan dan belajar membekali diri dengan keterampilan untuk tujuan dunia kerja. Cara melaksanakan Praktik Kerja Lapangan adalah dengan mengikuti kegiatan secara langsung, wawancara dengan kepala kandang beserta karyawan / anak kandang, serta melakukan pencatatan data primer dan sekunder.
Tatalaksana dalam pemeliharaan ayam ini meliputi : persiapan kandang dan peralatan yang digunakan, penggunaan dan pengaturan litter, perlakuan saat DOC datang, sanitasi, pemberian pakan dan air minum, seleksi, vaksinasi, pemberian vitamin dan obat-obatan, dan pemanenan.
Pada saat melaksanakan praktik kerja lapangan, kegiatan yang dilakukan di peternakan adalah pemeliharaan ayam broiler yang dimulai dari periode starter sampai periode finisher. Strain ayam yang digunakan oleh PT. Janu Putro Sentosa yaitu MB 202–P, dengan jumlah ± 50.000 ekor. Ayam broiler ini dipelihara selama ± 35 hari, dengan menggunakan sistem pemeliharaan all in all out. Sistem perkandangan yang digunakan yaitu kandang panggung (slat system), dengan jumlah kandang sekitar 10 kandang yang terdapat pada lokasi yang berbeda. Pencegahan penyakit yang dilakukan yaitu vaksinasi, pemberian vitamin dan obat-obatan dengan jadwal pemberian yang telah ditentukan oleh perusahaan. Setelah ayam berumur 35 hari, ayam dipanen dengan tahapan pengikatan 4–5 ekor ayam, penimbangan bobot akhir, pencatatan, yang kemudian diangkut ke mobil pengangkut. Dari hasil pemeliharaan, rata-rata bobot badan akhir yaitu 1,9–2 kg / ekor. Konversi pakan (FCR) yaitu 1,54 / 15.500 ekor, dengan tingkat kematian (mortalitas) 3,51 %.
By Chintya Nada Pangestika with 0 comments

Mengatasi Gejala dan Penyebab Penyakit Ayam Broiler

ayam broiler
Adalah Ny Saadah yang mengemukakan hal senada. Pentingnya menjaga kebersihan dan sedini mungkin mengatasi penyakit yang timbul merupakan suksesnya. Hal ini dibuktikan pada ternak ayam miliknya. Sejak 1991 sampai sekarang belum pernah terserang wabah penyakit. Komentar senada muncul dari peternak lain."Perhatian dan ketlatenan menjadi syarat utama keberhasilan," ungkap Zahar Chan yang telah beternak selama 10 bulan.

Lain lagi dengan Yap Tjie Tiong peternak asal temanggung. Ia berpendapat, beternak itu rawan penyakit.Disamping penyakitnya susah dikendalikan.Faktor alam pun sangat berpengaruh. Terlepas dari perbedaan persepsi yang semuanya bermuara pada penyakit, Peternakan Ayam Broiler Blogspot merangkum beberapa penyakit ayam dan penanggulanganya dari berbagai sumber.

A.Penyakit Akibat Virus.

1. Tetelo (Newcastle Desease)
Diskripsi :

Tetelo pertama muncul pada tahun 1926 di ingris. Sampai sekarang sudah tersebar luas di berbagai penjuru dunia. Penyakit sangat ganas dan menular. Peternak ayam sering menyebut sampar, Pes, Psuedo Vogel-Pest, atau Cekak.Ia menyerang ayam semua umur. Selain menghambat produksijelas mematikan. Sampai saat ini belum ada obat manjur. Ini akibat virus. Sama halnya manusia terkena Influenza. Pemberian obat tidak menghilangkan virus. Tetapi mengurangi gejala. Tindakan pencegahan paling dianjurkan.

Gejala :
Lesu, kurang bergairah, nafsu makan berkurang. Jengger ayam dan pial kebiruan. Sayap terkulai, keluar cairan dari hidung hingga susah bernafas, ngorok dan batuk, kotoran cair atau kekuningan, Jika banyak yang kena maka ayam akan bergerombol mencari tempat yang hangat, Setelah 1-2 hari kemudian muncul gejala syaraf seperti kaki lumpuh, jalan seret dan leher terpeluntir, (tortikolis) Akibatnya jalan berputar putar (tanda khas).

Penyebab :
1. Virus Paramxyo
2. Pergantian musim seperti hujan atau kemarau yang panjang, termasuk pancaroba.
3. Kontak langsung dengan ayam sakit melalui udara atau binatang lain (carrier)

Penanggulangan :
1. Vaksinasi secara teratur sesuai petunjuk. Pemberian dilakukan dengan vaksin aktif pada umur 4 hari, 18 hari,  8 minggu dengan vaksin ND in-aktif secara intra maskular, pada umur 18 minggu diberi vaksin gabungan IB + ND in aktif secara intra maskular pula. Ulang 6 bulan kemudian. Anak ayam umur kurang 1 bulan diberi dengan cara tetes. Pada ayam dewasa diberi secara intra maskular pula.

2. Ayam yang benar benar sakit harus dimusnahkan
- Aktif : Vaksin berisi bibit penyakit hidup tetapi sifatnya tidak terlalu ganas bagi ayam. Masa kekebalan 2,5 bulan.

2. Gumburo (Infectious Bursal Disease)
Diskripsi :
Gumboro menyerang sistem kekebalan tubuh. Terutama bagian bursa fibrikus dan thymus, Kedua bagian ini benteng pertahanan ayam dari penyakit. Kerusakan parah yang timbul adalah tidak terbentuknya antibodi sesudah vaksinasi, Gumboro memang tidak mengakibatkan kematian secara langsung tetapi infeksi sekunder setelahnya mengakibatkan banyak kematian.

Secara umum penyakit ini terbagi menjadi dua, yaitu gumboro klinik dan sub klinik, Gumboro klinik menyerang ayam umur 2-7 minggu. Kerusakan sistem kekebalan hanya bersifat sementara (2-3 minggu)  Lain lagi dengan Gumboro sub-klinik (dini). Inilah yang ditakutkan peternak. Selain tidak terdeteksi, umum menyerang anak ayam umur 0-21 hari walhasil sifat kekebalan hilang secara permanen (imunospresi).

Gejala :
Diare berlendir turun nafsu makan dan minum, gemetar dan sukar berdiri,Bulu kotor disekitar anus dan prilaku mematuk di sekitar kloaka (akibat peradangan pada Bursa fibrikus yang terletak diatas dubur)

Penyebab :
Virus IBD (Infectious Bursal Disease) merupakan golongan red virus dan mempunyai struktur RNA . Dalam tubuh ayam virus ini bertahan hidup lebih dari 3 bulan dan setelah itu masih bersifat  Infektif.

Penanggulangan :
  1. Vaksin pada umur satu hari dengan vaksin gumboro aktif. Vaksinasi lanjutan dilakukan pada umur 11 hari dengan vaksin gumboro gabungan (aktif dan in-aktif) vaksinasi berikutnya dilakukan pada umur 21 hari, 6 minggu dan 10 minggu dengan vaksin gumboro aktif (Gumboral CT) Bila perlu diulangi pada umur 40 minggu dengan gumboro in-aktif secara intra muskular.
  2. Menjaga sanitasi kandang

3. Cacar (Avian Pox/Fowl Pox/Avian Diptheria/Pokken Diptheria)

Deskripsi :
Penyakit ini menyerang ayam semua umur. Angka kematian yang ditimbulkan tergolong kecil, Ada dua bentuk penyakit ini pada ayam. Yaitu cacar kulit berupa kutil pada pial, jengger kelopak mata atau kaki. Diptheri berupa radang pada selaput lendir lidah, mulut, selaput mata, atau pangkal tenggorokan.

Kulit timbul dari bintik putih kemudian berubah agak besar kekuningan tak berapa lama jadi kasar dan berubah lagi menjadi coklat. Setelah 2-3 minggu terjadi peradangan pendarahan pada pangkal kutil.  Pada diptheri, kutil ini terdapat pada ronggamulut atau saluran pencernaan depan. Akibatnya terjadi sumbatan pada oesophagus.

Gejala :
Lesu, nafsu makan berkurang, Produksi telur menurun drastis, Suhu tubuh meninggi, kadang terjadi kelumpuhan, kotoran encer

Penyebab :
Virus famili Poxviridae

Penanggulangan :
  1. Vaksin dengan vaksin cacar aktif (Diftosec CT) pada umur 4 minggu dengan cara tusuk gores sayap atau intra muskular. Kemudia beri vaksinasi penguat /booster (Diftosec CT) 3 bulan kemudian. 
  2. Gunakan biji awar-awar sebanyak 3 buah. ukuran sedang untuk ayam umur 3 bulan. pemberian bisa langsung dengan mengiris kecil-kecil dan masukkan langsung atau menumbuknya kemudian campur dengan makanan atau minuman.
  3. Menyayat kutil kutil sampai berdarah dan diolesi larutan yodium atau neo blue atau yodium tinctura sampai kutil tersebut kering , kisut sampai akhirnya terkelupas
  4. Untuk diptheri kerik dulu gmpalan dalam rongga mulut sampai lepas, Luka yang timbul diolesi yodium tincturaatau yood gliserin

4. Batuk Darah (Infectious  laryngotracheitis)
Deskripsi :
Virus penyakit ini tidak segarang Gumboro. Selain dapat dihilangkan dengan desinfektan ia juga tidak tahan diluar tubuh host-nya (inang perantara) Ayam umur 14 minggu atau lebih sangat rentan penyakit ini.

Gejala :
Mata berair malas bergerak, getah radang (exudat) berupa lendir bercampur darahmelekat pada rongga mulut terutama tenggorokan. Akibatnya ayam banyak mati karna penyumbatan saluran tenggorokan. Selain itu sering batuk, sulit bernafas (terdengar suara khas) paruh dan kotoran terlihat percikan darah.

Penyebab :
Virus herpes, Yaitu tarpen avium.

Penanggulangan :
  1. Memberi vaksin modified LT vaccine dengan cara meneteskan pada mata. Cara lain dengan memberikan Cloacal type vaccine dengan cara menggosokkannya bada bibir atas kloaka. Laukan 2-3 bulan sebelum ayam bertelur. 
  2. Vaksinasi dengan Lyrngo Vac nobilis (Produksi Intervet) 
  3. Bila ayam terkena sebaiknya dimusnahkan.

5. Bronchitis (Infectious Btronchitis)
Deskripsi :
Penyakit ini menyerang pernafasan. Penularan terjadi dari udara tercemar dari ayam penderita. Ayam terserang menunjukkan gejala sakit setelah 48 jam. Angka kematian tertinggi terjadi saat anak ayam umur dibawah 6 minggu yaitu mencapai 6 % Pada dewasa hampir tidak ada.

Gejala :
Batuk, bersin, sesak nafas, ngorok mengeluarkan lendir, dari hidung dan mata dan nafsu makan dan minum menurun.

Penyebab : 
Virus golonganCorona

Penanggulangan :
  1. Vaksinasi secara teratur sesuai petunjuk. Bisa digunakan vaksin galur Massachusetts dan connecticut. Pemberian secara tetes mata atau hidung. Bisa juga melalui air minum.
  2. Vaksinasi pada umur 7 hari, 30 hari, dan 10 minggu dengan vaksin IB aktif (Bioral H-120)dengan cara tetes mata. Pemberian vaksin di;anjutkan umur 18 minggu dengan vaksin ND+IB in aktif.

6. Marek (Leoukosis Akuta)
Deskripsi :
Penyakit ini banyak timbul akibat kontak langsung dengan ayam penderita. Serangan  banyak terjadi pada anak ayam usia 3-4 minggu terutama pada usaha ayam komersial. Usia 8-9 minggu saat paling rawan serangan. Penularan bisa melalui debu kandang, kotoran, Litter, maupun peralatan kandang.

Gejala :
1. Neural : Jengger pucat, kelumpuhan pada sayap dan kaki.
2. Visceral : Hati lebih besar dua kali lipat
3. Ocular : Kebutaan , Iris mata berwarna kelabu
4. Skin Form : Tumor dibawak kulit dan otot


Penyebab :
Virus DNA tergolong virus Herpes tipe B


Penanggulangan :
1. Vaksinasi segera setelah telur menetas dengan vaksin Cryomarex HVT atau Cryomatex rispens dengan dosis0,2 mlsecara sub kutan (pada kulit leher)
2. Bila ada yang terserang sebaiknya dimusnahkan.

B. Penyakit Akibat Bakteri

1. Snot/Pilek (Infectious Coryza)
Deskripsi :
Penyakit ini menular dan timbul akibat perbahan musim dari kemarau ke hujan. Perbedaan cuaca sering ekstrim dan berpengaruh pada kondisi fisiologis ayam. Penyakit ini menyerang semua umur terutama pada ayam dewasa.

Angka kematian memang kecil (Mortalitas 30%), tetapi angka kesakitan cukuo tinggi (morbiditas 80%). Ayam betina umur 18-23 minggu paling rentan terserang. Bagi ayam petelur dapat menurunkan produksi sampai 20%.

Gejala :
Keluar lendir kekuningan encer dari hidung, kental dan berbau khas, terdapat kerak disekitar lubang hidung. mata tertutup sebagian akibat pembengkakan sinus infra orbital secara unilateral (sebelah) atau bilateral (keduanya) Akibatnya muka bengkak dan mata memejam, suara ngorok dan sukar bernafas dan pertumbuhan tidak normal.

Penyebab :
Bakteri Haemophilus Gallinarum

Penanggulangan :
1. Vaksinasi pada umur 12 minggu dan 17 minggu dengan vaksin snot in-aktiv (Haemovax 0,3 ml/ekor)
2. Jangan menyampur ayam yang berbeda usia lebih dari 3 minggu
3. berilah Mycomas, ampisol, Ultramcyin SP atau baytril 10% OS dengan dosis sesuai petunjuk pabrik

2. Kolera (Fowl Cholera/Avian Pasteurellosis)
Deskripsi : 
Penyakit ini tak kalah ganasnya dengan tetelo. Serangannya tidakhanya pada ayam petelur, Ayam pedagingpun disikatnya, Umum menyerang ayam lewat 12 minggu, serangan ini bisa secara mendadak  (akut) atau menahun (Kronis).Kerugian akibat penyakit ini pada turunannya bobot dadn produksi telur bahkan kematian.

Gejala:
1. Akut : Terjadi kematian yang secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas
2. Kronis : Ada gejala demam, nafsu makan berkurang, bulu berdiri, sesak nafas, mecret mula mula kuning kemudian coklat, bisa pula berwarna hijau, kotoran berbau busuk dan berlendir, pembengkakan pada jengger dan pial serta kepala berwarna kebiruan dan memperlihatkan gejala geleng-geleng kepala persendian kaki dan sayap membengkak kadang disertai kelumpuhan.

Penyebab :
Infeksi Bakteri Pasteurella multocida dan Pasteurella Gallinarium. sevara normal bakteri ini ada pada saluran pernafasan dan pencernaan. Pada kondisi daya tahan menurun bakter ini menjadi patogen.

Penanggulangan :
1. Vaksin Kolera umur 6-8 minggu dan diulang pada umur 8-10 minggu
2. Menjaga litter tetap kering ventilasi lancar
3. Menjaga isi kandang tidak padat
4. Ganti air minum tiap hari dan cuci tempat makan dan minum 2x seminggu
5. Berikan Mycomas. Noxal, atau ampisol dengan dosis sesuai aturan pabrik
6. Beri vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam seperti  vita stress atau vita strong.

3. Tipus (Fowl Thypoid)
Deskripsi :
Penyakit ini termasuk jenis berbahaya dan menular. Angka kematian akibat serangan bisa mencapai 30%-50%. Serangan terjadi pada semua umur. Tetapi lebih banyak pada ayam grower dan yang sudah bertelur.

Gejala :
Lesu nafsu makan turun, nafsu minum dan suhu tubuh meningkat, Ayam sedikit mencret dan berwarna kuning kehijauan, Kepala menunduk dengan mata terpejam seperti mengantuk, Kedua sayap terkulai, Ia lebih suka berada pada tempat yang hangat dan bulu terlihat kusam.

Penyebab : 
Bakteri Salmonella Gallinarum

Penanggulangan :
1. Menjaga sanitasi dengan baik, disamping menjaga litter tetap kering,  Bakteri ini dapat bertahan hidup pada litter yang lembab.
2. Bila baru terserang dapat diberikan colisuttrix atau dimetropin dengan dosis 1 gr dilarutkan dalam 1 L air minuman. Berikan 3-5 hari berturut-turut. Untuk pengobatan dosis ditambah 2 gr.


4. Berak Kapur (Pullorum Disease)
Deskripi :
Penyakit ini menyerang anak ayam. Terutama  anak ayam umur 1-10 hari. Kebanyakan yang kena lemah dan mati muda. Pada ayam dewasa tidak terlihat gejala-gejala sakit. Ayam yang sembuh menjadi pembawa sifat dan seumur hidupnya mengeluarkan bibit penyakit. Penularan utama melalui peneluran.

Gejala :
1.Anak Ayam : Nafsu makan berkurang. Kotoran encer berwarna pitih berlendir. dan banyak melekat pada daerah anus. Ayam terlihat pucat, lemah, kedinginan, dan suka bergerombol mencari tempat hangat. Sayap tampak kusut dan menggantung, jengger pucat dan berkerut, berwarna keabu abuan.
2. Ayam dewasa : Menurunya kesuburan dan daya tetas, depresi, anemia dan kotoran encer warna kuning.

Penyebab : 
Bakteri Salmonella Pullorum

Penanggulangan :
1. Menjaga sanitasi kandang dan mesin tetas, Fumigasi dengan Formaldelhida 40%
2. Pemberian vaksinasi sama halnya pada kolera
3. Bila terkena ayam sudah parah, sebaiknya dimusnahkan


4. Berak Kuning Kolibasiolosis/ CRD Kompleks (Granuloma Koli)
Deskripsi :
Penyakit ini bersifat oportunis, Timbul bila ayam dalam keadaan rentan atau kekebalan menurun, Kematian terbanyak pada anak ayam usia 5 hari, Penyebaran utamanya melalui air,

Gejala :
Ayam kurus, bulu kusam, dan kotoran disekitar pantat, Nafsu makan turun, dan kotoran encer berwarna kuning.

Penanggulangan :
1. Perbaikan sanitasi
2. Berikan Ronaxan dengan dosis 1g-2g/L air minum atau mycomas dengan dosis 0,5 ml/L air minum selama 3-5 hari berturut-turut

5. CRD (Chronis Respiratory Desesase)
Deskripsi :
Penyakit ini sifatnya menahun dan menyerang semua umur ayam. Terutama usia 4-9 minggu. Angka kematian menjadi tinggi bila serangan berbarengan dengan penyakit lain, Seperti ND dan IB. Gejala serangan hampir mirip dengan gejala Snot.

Gejala :
Batuk yang disertai bunyi ngorok, Keluar cairan dari lubang hidung, Nahsu makan berkurang, dan pada ayam dewasa betina terjadi penurunan produksi telur 10%-20%.

Penyebab :
Mycoplasma Gallisepticum

Penanggulangan :
1. Vaksinasi dengan vaksin Gallimune secara teratur sesuai petunjuk pabrik. Untuk daerah yang mempunyai resiko penularan tinggi dapat dilakukan 2 kali vaksinasi.Vaksinasi pertama umur 3 minggu. Vaksinasi penguat/booster pada umur 3-4 minggu sebelum periode bertelur dengan dosis 0,3 ml/ekor.
2. Bila sudah terkena dapat diobati dengan Mycomas 0,5 ml/L air minum atau baytril 10% )S sebanyak 0,5 ml/L air minum. Bisa juga dengan suanovil 1gr-2gr/L air minum. Seluruhnya dilakukan selama 3-5 hari berturut-turut.

C. Penyakit Akibat Cacingan (Worm Desease)
Deskripsi :
Penyakit ini jarang menimbulkan kematian. Umum menyerang ayam semua umur. Akibatnya terjadi hambatan pertumbuhan dan produksi telur. Secara umum ada 3 golongan cacing yang menjadi parasit.  Yaitu golongan Nematoda, Trematoda, dan Cestoda. Tiga jenis cacing dari golongan nematoda dan satu dari cestoda paling sering menyerang ayam.

Gejala :
A. Nematoda
1. Ascaris Galli : Menyerang semua umur, tubuh ayam kurus, lemah, nafsu makan berkurang, Sayap agak terkulai, bulu kusam, mencret, kotoran encer berlendir agak keputih-putihan, pertumbuhan terhambat.
2. Heterakis Gallinae : Hampir serupa dengan Ascaris Galli, mengakibatkan radang pada usus buntu, anemia , jengger dan pial pucat dan kotoran seperti bercak darah.
3. Cappilari SP : Jengger mengerut dan lemas, Kotoran ayam mengandung lendir, berwarna merah muda.

B. Cestoda
Raillietina Cesticillus : ubuh kurus, gerak lamban, Bulu sayap kering, dan mengerut, Selain mudah lepas, kadang nafasnya cepat.

Penyebab:
- Ascaris Galli dan Heterakis Gallinae, Capilaris SP, dan Railletina cescitilus

Penanggulangan :
1. Menjaga sanitasi kandang dengan pemberian desinfektan seperti biocid 17 ml dalam 10 L air atauistam dengan dosis 6 ml/ L air minum
2. Pemberian Caricid pada umur 4-6 minggu dengan dosis 30 ml/3Lair mnum untuk 100 ekor ayam. Umur lebih dari 6 minggu diberi dosis 6ml/L 6-10 L air untuk 100 ekor ayam.
3. Rintal Premix 2,4% dicampur dalam makanan dengan dosis 2,5 kg pakan. Diberikan selama 5-6 hari
4. Obat lain yang dapat diberikan adalah vermixon atau wom-X Dosis sesuai petunjuk pabrik.

D. Penyakit akibat protozoa
1. Berak darah (Coccidiosis)

Deskripsi :
Istilah koksidiosis dipakai karena penyebabnya bermacam spesies Coccidia. Penyakit ini banyak ditemukan dalam kandang bersistem Litter. Biangnya adalah Occyt dari Coccidia. Ia tumbuh subur dilitter yang basah pada musim hujan terutama pada daerah dataran tinggi.

Serangan terjadi pada semua umur ayam. Terutama anak ayam umur 1-10 minggu.  ada 9 macam species Coccidia yang ada, tapi yang menakutkan bagi peternak adalah Eimeria tenella dan Eimeria Necatrix. Walhasil kematian mendadak mencapai 20% dalam waktu 2-3 hari.Serangan ini terjadi pada alat pencernaan, usus halus dan usus buntu.

Gejala :
1. Anak Ayam : Lesu, Nafsu makan berkurang, Pucat, Minum terus, Sayap Terkulai, sayap terkulai, Kotoran Encerberwarna coklat campur darah. Bulu sekitar anus kotor. Ayam senang bergerombol di tepi atau sudut dan kaki jongkok.
2. Ayam Dewasa : Hampir sama seperti anak ayam, produksi telur menurun atau terhenti sama sekali.

Penyebab :
Eimeria SP

Penanggulangan :
1. Menjaga sanitasi kandang
2. Menjaga litter tetap kering
3. Memberi Noxal Dosis 1 sendok makan 2,8 ml air
4. Coxistac dengan dosis 1 ons untuk 100 kg makanan.Pemberian dilakukan 1-2 minggu.
5. Obat lainya adalah saquadil 50 dosis 20 ml/3,2 L air. Berikan dengan sistem 3:2:3 atau embacox dosis 5g/L air. Berikan selama 6 hari berturut-turut. Bisa jga menggunakan Aleccid dosis 1ml/L air berikan selama 4-5 hari berturut-turut.
6. Semua obat sulfa sangat manjur melawan koksidiosis.


2. Leukozitozoonosis
Deskripsi :
Penyakit ini menyebabkan kematian dan terganggunya pertumbuhan pada anak ayam. Serangannya kadang begitu cepat dan seringkali membawa kematian pada ayam yang terinfeksi. Secara umum penularannya melalui serangan penghisap darah seperti nyamuk atau lalat.

Gejala :
Nafsu makan menurun, muntah, depresi, Bulu kusut, pucat, anemia, mencret, dengan tinja berwarna kuning kehijauan, ada kenaikan suhu tubuh, dan keluar cairan dari hidung dan mulut.

Penyebab :
Nyamuk Genus Culicoides SP dan Ornithophilous SP

Penanggulangan :
1. Usahakan kandang jangan berdekatan dengan sawah, rawa atau genangan air.
2. Neo Sulfa dosis 3 sendok makan dicampur 3,5 L air minum

E. Penyakit Akibat Ammonia
Buta Mata (Keratoconjuctivis)

Deskripsi:
Beberapa nama lain kadang digunakan seperti kebutaan ammoniak. Serangan banyak terjadi pada pemeliharaan dengan sistem litter. Walhasil kandang banyak mengandung kotoran. Penumpukan kotoran ini menjadi pemicu timbulnya gas ammoniak. Bila berlebihan Uap ammoniak menyebabkan kebutaan.

Gejala :
Kekeruhan pada bola mata yang lama-lama berkembang menjadi peradangan yang parah. Warna mata berubah menjadi kelabu. Pupil mata berubah bentuk menjadi kurang teratur. Keratiniasi pada kelopak mata. Bila sudah parah maka fungsi kontraksi akan hilang sehingga ayam menjadi buta.

Penyebab :
1. Gas ammoniak akibat dari penumpukan kotoran di kandang
2. Defesiensi Vitamin A

Penanggulangan :
1. Perbaikan sanitasi dengan membersihkan kandang dan jangan membiarkan kotoran bertumpuk.
2. Pemberian pakan ayam yang mengandung banyak vitamin A
3. De-Odorase berbentuk bubuk merupaan pengendali polusi amonia dan bau dari kotoran ternak, Jadi, tidak timbul pencemaran. Dosis pemakaian 100g-125 g dicampur merata dalam 1 ton pakan ternak.

Berdasarkan pengalaman peternak, sejumlah penyakit inilah yang kerapkali menjadi batu sandungan dalam beternak ayam. Cara mengatasi hanya satu, yaitu monitoring setiap hari. Dengan demikian infaksi dapat diketahui sejak dini. Hal ini dapat dilakukan jika tenaga kerja dilapanga memiliki pengetahuan memadai dan tentu saja dapat dipercaya. Kemampuan dapat diasah, tetapi pekerja bermental baik tidak mudah diperoleh.***
By Chintya Nada Pangestika with 1 comments